(KANALACEH.COM) – Beberapa orang merasakan kesedihan dan kekecewaan yang cukup ekstrem setelah libur Lebaran. Bahkan, perasaan itu dapat menghambat rutinitas mereka sehari-hari.
Psikolog klinis dewasa Adelia Octavia Siswoyo mengatakan, kondisi tersebut disebut dengan post-vacation blues atau post-vacation depression. Post-vacation depression tidak hanya terjadi pada orang-orang yang pergi berlibur saat Lebaran, tetapi juga liburan pada umumnya.
“Post-vacation depression adalah kondisi ketika seseorang mengalami dan merasakan berbagai perasaan tidak menyenangkan secara berlebihan, seperti sedih, menyesal, marah, atau kecewa, setelah liburan,” tutur Adelia seperti dilansir laman Kompas, Sabtu, 5 April 2025.
Post-vacation blues terjadi ketika ada perbedaan yang signifikan antara kegiatan berlibur dengan rutinitas hariannya.
Misalnya adalah perasaan dan suasana yang dirasakan saat berlibur dan berkegiatan sehari-hari, orang-orang yang ditemui, dan lingkungan yang ditempati.
“Liburan memberi rasa senang sedangkan di rutinitas harian, sulit untuk menyadari perasaan senang yang serupa,” kata Adelia.
Gejala post-vacation blues
Gejala post-vacation blues biasanya mencakup ketakutan untuk menghadapi rutinitas sehari-hari, perasaan sedih dan gelisah, serta penyesalan.
Seseorang juga bisa mengalami nostalgia secara terus menerus dari perjalanan tersebut. Ini memengarui aktivitasnya, entah itu bekerja atau bersekolah, dan interaksinya dengan orang-orang di sekitarnya.
Adelia menjelaskan, ketakutan untuk menghadapi rutinitas sehari-hari bisa karena rutinitas itu merupakan stressor atau pemicu perasaan stres yang seseorang alami sebelum mereka berlibur.
“Ketakutan ini bisa jadi karena mereka belum menemukan cara yang tepat untuk mengatasi stresnya. Mungkin juga takut menghadapi stressor baru yang akan lebih membuatnya stres, dan mereka belum bisa membayangkan cara untuk beradaptasi dengan hal itu,” ujar dia.
Apakah termasuk sebagai gangguan mental?
Adelia menegaskan bahwa post-vacation depression tidak tergolong sebagai sebuah gangguan mental. Sebab, kondisi ini tidak ada dalam buku panduan dalam menegakkan diagnosis gangguan mental.
Adapun, buku panduan itu adalah Pedoman Penggolongan dan Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ), atau Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders V (DSM-5).
Meski begitu, gejalanya memang bersifat depresif atau cukup mirip dengan emosi yang dirasakan oleh seseorang dengan gangguan depresi.
“Jenis gejala dan perasaannya cenderung mirip, tapi sudah pasti intensitas dan durasinya tidak sampai serupa dengan depresi,” tutur Adelia. []